Blog  

Seruan Menyentuh Hati soal Karhutla, Pendiri Maung dan Rajawali Hadysa Prana: Udara Bersih Adalah Hak Setiap Anak Bangsa!

Oplus_16908288

MEDIA NASIONAL JURNALIS.COM

JAKARTA, 17 Oktober 2026 .

Asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di negeri ini. Langit yang seharusnya cerah berwarna kebiruan, kini kerap tertutup kabut tebal yang menyengat mata dan sesakkan napas. Anak-anak memakai masker bukan karena pandemi, tapi karena udara di tanah kelahiran mereka tak lagi sehat untuk dihirup. Petugas di lapangan kelelahan memadamkan api yang muncul terus-menerus di titik-titik berbeda. Sementara kita yang berada di tempat yang lebih aman, sekadar melihat berita, menghela napas panjang, lalu kembali ke rutinitas seolah-olah ini bukan masalah kita semua.

Inilah kenyataan pahit yang berulang setiap tahun: kebakaran hutan dan lahan datang, pergi, lalu datang lagi, seolah tak pernah ada penyelesaian yang sungguh-sungguh.

Di tengah keprihatinan yang mendalam ini, Hadysa Prana, Ketua Umum sekaligus Pendiri Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), menyampaikan pesan terbuka yang tulus dan menyentuh hati — kepada seluruh pemimpin bangsa, aparat penegak hukum, pemerintah di segala tingkat, dan seluruh masyarakat Indonesia.

PESAN TERBUKA HADYSA PRANA SANG MAUNG & RAJAWALI :

“Kepada Bapak dan Ibu Pemimpin Negeri ini, para pengambil kebijakan, para penegak hukum, dan seluruh saudara sebangsa dan setanah air,

Lihatlah ke luar jendela. Dengarkanlah suara di sekitar kita. Udara yang kita hirup setiap hari, kini menjadi sesuatu yang menakutkan. Hutan yang seharusnya menjadi paru-paru bumi, perlahan berubah menjadi abu dan kepulan asap yang tak bertepi. Lahan yang seharusnya menafkahi anak cucu, terbakar habis dalam hitungan jam, dan butuh puluhan tahun untuk memulihkannya — jika memang bisa pulih kembali.

Baca juga artikel beritanya  Gubernur Sumbar Serahkan Penghargaan kepada BPP Kecamatan Kamang Baru

Kita sering berkata: ‘Negeri kita kaya raya.’ Tapi kekayaan apa yang tersisa jika tanahnya terbakar, airnya keruh, udaranya tak layak hirup, dan anak-anak kita harus tumbuh dengan paru-paru yang rusak sebelum mereka dewasa?

Saya tidak berdiri di sini untuk sekadar menunjuk siapa salah. Tapi saya berdiri di sini karena hati ini terasa perih. Setiap kali api berkobar, yang menderita bukan hanya pohon atau hewan hutan. Yang menderita adalah warga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Yang menderita adalah ibu yang menggendong bayi di tengah asap tebal. Yang menderita adalah petani yang lahannya hangus tanpa tahu harus memulai dari mana lagi.

Kepada Pemerintah: Bangunan megah dan jalan muluk memang kemajuan yang nyata. Tapi jika udara rakyat tak lagi sehat untuk dihirup, maka apa gunanya semua itu? Cegah lebih baik daripada memadamkan. Awasi lebih ketat daripada sekadar bertindak setelah api berkobar. Jangan biarkan izin usaha mengalahkan kelestarian bumi yang menopang kehidupan kita semua.

Baca juga artikel beritanya  Seorang Pemuda 21 Tahun Hanyut di Aceh Singkil, Pencarian Terus Dilakukan

Kepada Aparat Penegak Hukum: Hukum tidak boleh lemah di hadapan mereka yang membakar bumi demi keuntungan sesaat. Jika hukum tidak tegas, maka api akan terus menyala di mana pun dan kapan pun. Tegaslah, bukan karena ingin menakuti, tapi karena nyawa dan masa depan rakyat jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat.

Kepada para Pengusaha dan Pengelola Lahan: Ingatlah, apa yang kita miliki hanyalah titipan. Kita bukan pemilik bumi, kita hanyalah penjaga yang akan menyerahkannya kepada generasi berikutnya. Apakah kita ingin menyerahkan bumi yang gundul, gersang, dan berasap kepada anak cucu kita? Atau kita berikan mereka hutan yang rimbun, sungai yang jernih, dan udara yang bersih? Pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Dan kepada seluruh Masyarakat Indonesia: Jangan merasa ini bukan urusan kita. Udara yang kita hirup sama, langit yang kita lihat sama, dan bumi yang kita pijak ini satu. Jangan diam saja. Laporkan jika melihat api. Jangan bakar lahan dengan alasan apa pun. Kita semua punya peran, sekecil apa pun.

MAUNG dan RAJAWALI berdiri bukan untuk menuduh, tapi untuk mengingatkan: Bumi ini satu, dan kerusakannya tidak mengenal batas wilayah atau jabatan. Jika bumi sakit, kita semua akan merasakan sakitnya. Jika bumi selamat, maka selamatlah kita dan generasi yang akan datang.

Baca juga artikel beritanya  DPD RAJAWALI Batam Apresiasi Polda Kepri, Minta Kasus Mesin Turbo Rp30 Miliar Diusut Hingga Tuntas!

Mari kita mulai hari ini. Lebih peduli, lebih waspada, dan lebih bertanggung jawab. Jangan tunggu api datang baru bergerak. Cintailah tanah air kita dengan menjaganya, bukan hanya dengan kata-kata saat upacara bendera, tapi dengan tindakan nyata setiap harinya.

Semoga Tuhan senantiasa melindungi tanah air tercinta. Semoga kelak, anak-anak kita bisa bernapas lega di bawah langit yang biru kembali. Itulah harapan sederhana, namun paling besar yang bisa kita titipkan untuk masa depan.”*

Karhutla bukan musuh yang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari kelalaian, kelambatan, dan sikap acuh tak acuh yang terus dibiarkan dari tahun ke tahun. Memadamkan api memang penting, tapi mencegahnya berkobar jauh lebih mulia dan jauh lebih murah harganya dibandingkan kerugian yang ditimbulkan.

Hadysa Prana mengingatkan: “Bumi tidak mewarisi kita. Kitalah yang meminjamnya dari anak cucu kita. Jangan kembalikan dalam keadaan hangus dan berasap.”

Semoga seruan ini menggema, bukan sekadar terbaca, tapi benar-benar menyentuh hati dan menggerakkan langkah kita semua — dari yang memegang kebijakan, yang menegakkan hukum, hingga kita yang hidup di tengah masyarakat. Karena menjaga bumi bukan tugas satu pihak saja. Itu tugas kita semua.

Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM MAUNG-RAJAWALI
Ket Foto : Ilustrasi

Mnj.com

Jauhari M Yunus S.E. CFLE. CCPJ. C.JI. C.L.WI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *