Opini: H. Winnur Wajda, S.E., M.M.
Mnj.com Bener Meriah, Jumat 06/11/2026
Anggota Badan Baitul Mal Kabupaten Bener Meriah Pada tulisan sebelumnya, “Ada Kopi Ada Cerita, Tetapi Cerita Apa Dulu?”, kita merenungkan makna slogan yang telah menjadi identitas masyarakat Gayo. Kopi Gayo memang telah menembus pasar internasional.
Pertanyaannya kini: cerita seperti apa yang ingin kita bangun untuk masa depan Gayo?
Kita tentu tidak ingin Gayo hanya dikenal karena aroma dan cita rasa kopinya.
Bayangkan jika orang membicarakan Gayo karena petaninya sejahtera, anak-anaknya berpendidikan, generasi mudanya mandiri, UMKM-nya berkembang, dan masyarakatnya peduli satu sama lain.
Bukankah itu cerita yang jauh lebih membanggakan?
Mulai dari Hal yang Bisa Dibangun Kesejahteraan tidak harus dimulai dari yang besar. Ia tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan bersama dan berkelanjutan.
Dari kebun, kita meningkatkan kualitas pertanian, memperkuat kelembagaan petani, dan menjalin kemitraan yang memberi nilai tambah.
Dari secangkir kopi, tumbuh UMKM, industri pengolahan, kedai lokal, dan produk kreatif yang membuka peluang usaha bagi anak muda.
Dari keindahan alam, berkembang wisata berbasis pengalaman, sehingga wisatawan tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga merasakan budaya dan keramahan warga.
Dari sumber daya manusia, lahir generasi terampil dan berwirausaha yang mampu mengembangkan daerahnya sendiri.
Semua itu menuntut kolaborasi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, koperasi, perguruan tinggi, komunitas pemuda, dan masyarakat.
Kesejahteraan Harus Menjangkau Semua
Ada satu cerita yang tidak boleh terlewat: cerita tentang mereka yang membutuhkan keberpihakan. Keluarga kurang mampu perlu kesempatan memperbaiki hidup.
Petani kecil perlu pendampingan dan akses ekonomi. Anak yatim perlu pendidikan dan masa depan yang layak.
Di sinilah zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) berperan penting. Potensinya dapat diarahkan bukan hanya untuk kebutuhan mendesak, tetapi juga untuk pemberdayaan ekonomi produktif, sesuai ketentuan syariah dan regulasi.
Tujuannya agar penerima bantuan tumbuh mandiri dan pada waktunya ikut membantu sesama. Inilah perubahan yang kita harapkan: dari ketergantungan menuju kemandirian, dari keterbatasan menuju kesempatan.
Satu Cerita, Banyak Peran
Kita tidak perlu menunggu semua potensi tersedia sempurna. Yang dibutuhkan adalah kesediaan menyatukan langkah.
Pemerintah menghadirkan kebijakan yang berpihak. Dunia usaha membuka kemitraan dan lapangan kerja.
Lembaga pendidikan menyiapkan sumber daya manusia. Lembaga sosial keagamaan memperkuat kepedulian dan pemberdayaan. Masyarakat menjadi pelaku utama.
Upaya-upaya ini akan lebih efektif bila diarahkan dalam agenda pembangunan yang saling terhubung, bersasaran jelas, dan terukur manfaatnya.
Sebab, kemajuan daerah tidak ditentukan oleh besarnya potensi, melainkan oleh seberapa banyak warga yang menikmati manfaatnya.
Cerita Terbaik Adalah yang Kita Wujudkan Bersama
Gayo punya banyak alasan untuk optimistis.
Kopi memberi identitas, alam memberi potensi, budaya memberi kekuatan, dan tradisi kebersamaan menjadi modal sosial yang berharga.
Mari kita perluas makna slogan Ada Kopi, Ada Cerita.
Jangan hanya memperbanyak kisah kopi yang mendunia, tetapi juga kisah petani yang makin sejahtera, anak muda yang sukses berusaha, UMKM yang berkembang, keluarga yang keluar dari kemiskinan, dan masyarakat yang saling mengayomi.
Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita mengajak semua pihak mengambil bagian membangun masa depan yang lebih baik.
Kopi boleh menjadi kebanggaan Gayo, tetapi kesejahteraan masyarakat harus menjadi tujuan utama pembangunan.
Sebab, kopi yang mendunia adalah kebanggaan, sedangkan masyarakat yang sejahtera adalah keberhasilan.
Ada Kopi, Ada Cerita. Saatnya kita menulis cerita tentang Gayo yang lebih berdaya, sejahtera, dan bermartabat.













