TRENGGALEK MNJ.COM
Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Trenggalek sukses melaksanakan program Character Building Class yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari Jumat hingga Minggu (16–18 Oktober 2026). Kegiatan yang bertempat di lingkungan sekolah ini ditujukan untuk memperkuat integritas, kedisiplinan, serta jiwa kepemimpinan para siswa.
Dalam acara tersebut, pihak sekolah menghadirkan akademisi dan pakar pengembangan karakter, Dr. (cn) Mochammad Sinung Restendy, M.Pd.I., M.Sos, sebagai narasumber utama untuk membagikan wawasan serta motivasi bagi seluruh peserta.
Salah satu materi krusial yang dibahas secara mendalam dalam kegiatan ini adalah “Praktik Cegah Bullying dan Dorongan Positif “. Mengingat maraknya fenomena bullying di dunia pendidikan, sosialisasi ini bertujuan agar siswa mampu mengenali, mencegah, dan merespon tindakan perundungan secara bijak.
Membedah Bentuk Perundungan dan Mitos yang Beredar
Dalam pemaparannya, dipaparkan bahwa perundungan merupakan perilaku agresif yang bertujuan menyakiti seseorang atau kelompok akibat adanya ketimpangan relasi kuasa dan dilakukan secara berulang.
Berbagai bentuk perundungan diulas secara komprehensif, meliputi:
• Fisik: Kontak fisik langsung seperti memukul, mencubit, atau menampar.
• Verbal: Tindakan non-kontak fisik melalui perkataan, seperti mengejek nama.
• Relasional: Pengasingan individu atau kelompok dari lingkungan sosial.
• Cyber: Perundungan melalui media internet atau akun anonim.
• Seksual: Tindakan atau ejekan berbau seksual yang tidak pantas.
Selain itu, peserta juga diajak menepis berbagai mitos keliru, seperti anggapan bahwa perundungan adalah sekadar “bercandaan” atau dapat “menguatkan mental” anak. Siswa diimbau untuk tidak tinggal diam ketika melihat tindakan bullying, menahan diri dari merespon kekerasan dengan kekerasan, serta berani melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang di sekolah.
Pentingnya Penguatan dan Dorongan Positif
Selain edukasi bagi siswa, materi ini juga menyoroti peran penting pengajar dan orang dewasa dalam menerapkan penguatan dan dorongan positif (positive reinforcement) ketimbang sekadar memberikan pujian.
Perbedaan mendasar ditunjukkan bahwa pujian umumnya hanya berfokus pada hasil akhir atau prestasi. Sebaliknya, penguatan dan dorongan positif berfokus pada proses, usaha, serta peningkatan pribadi anak.
Dengan memberikan dorongan yang tulus, spesifik, dan responsif, anak-anak terdorong untuk memiliki motivasi internal, menghargai proses belajar, dan berani bertanggung jawab atas kesalahan mereka.
(Candra Dwi Nanda Sari)













