KEDIRI Nasionaljurnalis.com
Diskusi hangat terjadi dalam siaran udara Radio Andika pada Jumat malam kemarin (23/1/26). Menghadirkan pengamat sosial sekaligus akademisi Mochammad Sinung Restendy. Wawancara ini menyoroti kontradiksi yang kian nyata di lingkungan sekolah dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah jeritan ekonomi guru honorer yang masih jauh dari kata sejahtera.
Dalam sesi tersebut, Sinung membedah bagaimana sebuah kebijakan nasional yang bertujuan baik bisa menciptakan “kecemburuan struktural” jika tidak dibarengi dengan pembenahan SDM pengajarnya.
Perut Kenyang, Dompet Kosong
Sinung mengungkapkan bahwa secara sosiologis, ada disonansi ekonomi yang tajam di koridor sekolah. Di satu sisi, negara mampu mengalokasikan anggaran besar untuk memastikan setiap siswa mendapatkan asupan nutrisi berkualitas.
Namun di sisi lain, guru honorer yang mengawasi pembagian makanan tersebut sering kali harus menahan lapar karena gaji yang tidak cukup untuk membeli makanan dengan standar gizi yang sama.
“Sangat ironis ketika kita melihat seorang guru honorer membagikan menu empat sehat lima sempurna kepada siswanya, sementara sang guru sendiri mungkin hanya mampu membeli mie instan atau nasi aking untuk dibawa pulang ke rumah,” ujar Sinung dalam wawancara tersebut.
Poin Utama Kesenjangan Sosial-Ekonomi
Sinung merangkum beberapa dampak krusial dari ketimpangan ini:
• Degradasi Motivasi: Ketimpangan kesejahteraan dapat menurunkan wibawa guru di mata publik dan menurunkan moralitas kerja dalam jangka panjang.
• Paradoks Anggaran: Pemerintah dinilai lebih fokus pada investasi fisik (makanan) dibandingkan investasi pada aktor utama pendidikan (guru).
• Beban Psikologis: Guru honorer sering kali terjebak dalam survivorship bias, di mana mereka dituntut profesional namun kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi.
Lampu Kuning untuk Kebijakan Pendidikan
Menurut Sinung, program MBG seharusnya tidak berdiri sendiri sebagai “proyek makan”.
Ia mendesak pemerintah untuk menyelaraskan kesejahteraan guru honorer sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang sehat.
“Kita tidak bisa mengharapkan output pendidikan yang luar biasa dari siswa yang kenyang, jika yang mengajar mereka berada dalam kondisi kelaparan secara ekonomi,” tegasnya menutup sesi wawancara.
(Arif muttaqin)













