ACEH, OPINI  

Greenland dan Aceh: Bedanya di Mana, Peluangnya Apa?

Oleh: Adhifatra Agussalim, CIE, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML

Aceh Nasionaljurnalis.com

Opini ini dipicu oleh manuver Tuan Trump di utara Eropa dan kebijakan Presiden Prabowo di barat Indonesia.

Ya, isu ini masih hangat, bahkan telah menjadi “meja kasino” para pemerhati hubungan internasional—dengan beragam visi dan analisis. Intinya, ini layak dibahas secara ilmiah, historis, dan dalam semangat self-determination.

Greenland dan Aceh sama-sama memiliki bendera berbeda dari induknya, sama-sama dihuni rakyat yang berjuang secara demokratis menentukan nasib sendiri, dan sama-sama menempati wilayah yang sangat strategis.

Ketika membandingkan Greenland dan Aceh, banyak orang mungkin bertanya, “Apa hubungannya dua wilayah ini?” Secara geografis, budaya, dan iklim, keduanya memang sangat berbeda.

Namun di balik perbedaan tersebut, terdapat kesamaan strategis yang menarik, terutama dari sisi sumber daya alam dan posisi geopolitik.

Perbedaan Geografis dan Iklim
Greenland terletak di kawasan Arktik, dengan mayoritas wilayah tertutup es.

Suhu ekstrem, musim tanam terbatas, dan aktivitas ekonomi sangat bergantung pada laut serta pertambangan. Aceh sebaliknya, berada di kawasan tropis dengan tanah subur, curah hujan tinggi, serta kekayaan laut dan hutan yang melimpah.

Kondisi ini membuat Aceh jauh lebih fleksibel dalam pengembangan pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Singkatnya, Greenland kaya di bawah es, Aceh kaya di atas tanah dan laut.

Namun di Aceh, yang sering diributkan justru pergantian Sekda atau Ketua DPRA—isu yang dianggap lebih seksi dibandingkan kesejahteraan masyarakat yang baru saja dihantam bencana hampir di seluruh wilayah Aceh. Ya, seluruh Aceh.

Baca juga artikel beritanya  Kapolda Aceh Tinjau Progres Pembangunan 150 Huntap bagi Korban Banjir di Aceh Tamiang

Politik dan Posisi Strategis
Greenland merupakan wilayah otonom di bawah Denmark, dengan posisi strategis global karena berada di jalur Arktik yang kian penting akibat perubahan iklim.

Aceh adalah daerah otonomi khusus di Indonesia, dengan kewenangan luas dalam pengelolaan pemerintahan, hukum adat, dan keagamaan.

Keduanya sama-sama strategis, tetapi dalam konteks berbeda. Greenland berada dalam pusaran geopolitik global, sementara Aceh berada pada geopolitik regional dan nasional.

Namun di Aceh, cukup dengan isu viral—misalnya kabar gubernur menikah lagi, yang bahkan belum tentu benar—publik disuguhi berita itu berhari-hari.

Sementara pengungsi banjir merasa “kenyang” oleh pemberitaan tersebut, berteduh di bawah terpal, berjemur di bawah matahari. Tenda itu indah.

Sumber Daya Alam
Greenland unggul pada rare earth, uranium, dan mineral strategis. Aceh memiliki emas, gas, dan batu bara. Dari sisi laut, Greenland mengandalkan perikanan dingin, sementara Aceh memiliki perikanan tropis.

Namun jalur laut kita hari ini seakan hanya mampu mengantarkan pengungsi Rohingya, tidak lebih.
Greenland memiliki hutan yang sangat terbatas.

Aceh justru memiliki hutan luas dan produktif—begitu produktif hingga ketika hujan deras turun, banjir bandang menyapu hilir dan pesisir.

Baca juga artikel beritanya  Serap Isu yang Beredar : Inspektorat Bakal Panggil Camat Simeulue Barat.

Pada sektor energi, Greenland mengembangkan energi terbarukan, sementara Aceh masih bertumpu pada industri migas dan energi hijau yang “sedikit kekuning-kuningan”.
Greenland fokus pada mineral strategis dunia.

Aceh unggul pada sumber daya hayati dan energi—yang hingga kini belum dikelola secara optimal.

Tantangan Utama
Greenland menghadapi ketergantungan ekonomi, keterbatasan SDM, dan mahalnya infrastruktur.

Aceh menghadapi persoalan tata kelola, investasi yang belum optimal, kualitas SDM, dan birokrasi. Jika Greenland “terhambat alam”, Aceh sering kali “terhambat sistem”.

Peluang Aceh Belajar dari Greenland
Greenland mulai mengelola asetnya secara profesional dan transparan demi kemandirian ekonomi.

Dari sini, Aceh dapat belajar:
Hilirisasi sumber daya
Aceh tidak cukup menjual bahan mentah. Perikanan harus diarahkan ke industri ekspor, pertanian ke agroindustri, dan pertambangan ke pembangunan smelter lokal.

Diplomasi ekonomi daerah
Greenland aktif membangun kerja sama internasional. Aceh juga dapat memperkuat investasi, ekspor UMKM, dan pariwisata halal.

Ekonomi berbasis lingkungan
Greenland mulai menjaga keseimbangan ekologi. Aceh memiliki peluang besar pada ekowisata, energi terbarukan, dan pengelolaan hutan lestari.

Penguatan SDM lokal
Tanpa SDM unggul, kekayaan alam hanya menjadi “warisan yang habis”. Aceh perlu fokus pada vokasi industri, riset lokal, dan kewirausahaan muda.

Peluang Strategis Aceh ke Depan
Jika dikelola serius, Aceh berpotensi menjadi pusat ekonomi hijau Sumatra, sentra kelautan barat Indonesia, hub ekonomi syariah regional, serta gerbang ekspor Samudra Hindia. Dengan kata lain, Aceh bisa menjadi “Greenland versi tropis”: kaya sumber daya, mandiri secara ekonomi, dan disegani secara strategis.

Baca juga artikel beritanya  P3S : Desak PJ bupati simeulue netral terhadap sidang Etik ASN di masa pilkada.

Bukan Soal Alam, Tapi Arah Kebijakan
Perbedaan Greenland dan Aceh bukan terletak pada kekayaan alam, melainkan pada cara mengelolanya. Greenland dengan alam keras berjuang membangun kemandirian.

Aceh dengan alam ramah justru masih mencari format terbaik pengelolaan.
Ini menunjukkan satu hal penting: kemajuan daerah tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh bagaimana mengelolanya.

Jika Aceh mampu memperkuat tata kelola, investasi, dan SDM, maka peluang menjadi pusat pertumbuhan baru di barat Indonesia terbuka lebar.
Opini ini sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan Greenland.

Mereka sudah seribu kilometer lebih di depan kita. Jadi untuk apa kita berteriak soal adat, budaya, dan sejarah yang berbeda, jika di tanah sendiri kita telah takluk dan dipaksa?

Cukup. Tidak perlu dikomentari atau diberi saran. Ini hanya titipan permohonan dari para pengungsi di Pidie, Takengon, Sawang, Peusangan, Langkahan, dan Tamiang.

Wassalam.

Blang Peuria, Samudera, Aceh Utara, 2 Februari 2026 / 14 Sya’ban 1447 H
Penulis otodidak, dididik di bawah tenda, dipayungi matahari, dimandikan hujan di tanah endatu yang kehilangan hak warisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *