Oleh: Madyaningrum
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia saat ini, dengan 17.500 pulau dan panjang garis pantai lebih dari 95.000 km yang merupakan garis pantai terpanjang keempat di dunia (Marfai, 2014; wartaekonomi, 2025).
Posisi strategis Indonesia yang memiliki luas terumbu karang lebih dari 50 kilometer persegi merupakan 65% dari luas total coral triangle menjadikannya kaya akan keanekaragaman hayati bawah air (Asaad dkk., 2020)
Potensi kekayaan alam ini menjadi aset penting dalam wisata bahari Indonesia yang terus memikat dunia, namun rentetan kecelakaan fatal sepanjang tahun 2024 hingga 2025 di destinasi wisata snorkeling seperti Gili Air, Nusa Penida, Labuan Bajo menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan masih sering terabaikan.
Snorkeling harusnya menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan berakhir tragis. Kecelakaan snorkeling termasuk tenggelam yang mengakibatkan kejadian fatal ataupun tidak menjadi perhatian yang sangat penting dalam aktivitas di air. Dalam mewujudkan wisata yang benar-benar aman dan nyaman, kita perlu melihat fakta dan menerapkan solusi yang lebih ketat.
Realita di lapangan bukan sekedar kurang terampil, namun banyak yang menganggap kecelakaan snorkeling hanya disebabkan oleh ketidakmampuan berenang. Fakta di lapangan menunjukkan faktor risiko yang jauh lebih kompleks (Dunne dkk., 2021; Lippmann, 2019), yaitu:
Sebagian besar korban adalah laki-laki dengan rerata usia 49 tahun.
Faktor kesehatan, terutama penyakit kardiovaskular menyumbangkan 41% dari kematian saat snorkeling. Beberapa wisatawan berusia 70 tahun an atau mereka yang mempunyai kondisi medis bawaan tidak menginformasikan riwayat kesehatannya kepada operator wisata.
Kondiai akut seperti hipoksia dari edema paru atau insiden jantung merupakan penyebab umum terjadinya keadaan yang fatal.
Faktor perilaku wisatawan yaitu kurangnya pengalaman dan pengawasan pemandu yang lemah merupakan kontributor penting terhadap kecelakaan.
Wisatawan yang tidak familiar dengan kondisi lokasi maupun keterampilan menggunakan peralatan yang digunakan menyumbang 73% dari kasus fatalitas.
Buddy system (sistem mitra) yang terabaikan juga meningkatkan risiko kecelakaan.
Faktor lingkungan seperti gelombang yang tinggi, arus yang kuat dan peralatan snorkeling yang tidak terawat seringkali memperburuk keadaan bila terjadi kepanikan.
Solusi realistis demi keamanan bersama
Keamanan dan keselamatan bukan hanya tanggung jawab pemandu, tapi merupakan kolaborasi antara wisatawan dan penyedia jasa.
Strategi pencegahan yang harus diambil yaitu:
Skrining kesehatan sebelum aktivitas snorkeling. Operator wajib menyediakan formulir penilaian kesehatan mandiri yang diisi oleh wisatawan, terutama bagi wisatawan yang paruh baya dan memiliki riwayat penyakit kronis.
Edukasi dan briefing wajib oleh pemandu. Tidak ada wisatawan yang masuk ke air tanpa pengarahan keselamatan yang jelas mengenai cara menggunakan peralatan, memahami arus, memahami lingkungan bawah air dan memahami prosedur darurat (Madyaningrum dkk., 2025).
Penerapan buddy system (sistem mitra) agar wisatawan tidak berenang sendirian. Pengawasan yang ketat dari pemandu yang kompeten sangat krusial bagi pemula (Dunne dkk., 2021).
Standarisasi peralatan juga tidak kalah penting. Pemeliharaan yang teratur dan penggunaan snorkel yang tepat dapat mengurangi risiko hipoksia (Dunne dkk., 2021; Lippmann, 2019).
Peralatan standar yang harus digunakan adalah masker, snorkel, fins dan pelampung (life vest). Pelampung merupakan alat yang paling krusial bagi setiap wisatawan yang melakukan perjalanan menggunakan perahu. Kegunaan pelampung tidak hanya dipakai saat beraktivitas snorkeling saja, namum pada saat perjalanan menggunakan perahu.
*Pentingnya Kompetensi Pemandu Wisata*
Setiap destinasi wisata snorkeling wajib mempunyai pemandu wisata yang kompeten. Pemerintah sudah mengesahkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pemandu Wisata.
Untuk wisata perairan, terdapat SKKNI Pemandu Wisata Perairan, Pemandu Wisata Selam, Pemandu Wisata Snorkeling, dan Balawista untuk menjaga keselamatan di perairan. Kompetensi tersebut harus dimikili seseorang yang berprofesi sebagai pemandu wisata.
Dengan kompetensi yang dimiliki, pemandu menjadi lebih percaya diri dan wisatawan akan lebih merasa aman saat didampingi di lokasi wisata. Kualitas pelayanan pemandu wisata berpengaruh besar terhadap kepuasan wisatawan, sehingga wisatawan bisa berkunjung kembali atau bahkan merekomendasikan destinasi tersebut kepada relasinya.
Menikmati keindahan bawah laut Indonesia adalah hak setiap wisatawan, namun keselamatan adalah kewajiban yang mutlak. Dengan meningkatkan pendidikan tentang risiko kesehatan, memastikan pengawasan yang tepat untuk wisatawan dan profesionalisme standar operasional dari penyedia jasa,
snorkeling bisa kembali menjadi aktivitas yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi siapa saja.
Diperlukan kolaborasi antara masyarakat lokal (pemandu wisata), Pemerintah daerah atau pusat, Lembaga Sertifikasi Profesi dan Lembaga Pelatihan agar pengelolaan SDM Pemandu Wisata snorkeling terjaga kompetensinya dan meningkatkan kepercayaan diri serta menjaga kepuasan wisatawan agar berkunjung ulang.













