SUBANG  

Desa Pakuan Kediaman KDM Jadi Destinasi Wisata Budaya Favorit Pengunjung Nusantara

Subang – Mnj.com

Kediaman kampung halaman Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM), di Desa Pakuan, Jalan Sukadaya Rawa Lele, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kini menjadi salah satu tujuan wisata yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dikenal hingga mancanegara.

Pantauan awak media pada Rabu, 27 Mei 2026, kawasan tersebut terlihat tertata rapi, bersih, serta sarat nuansa adat dan budaya Sunda yang kental dengan sejarah Siliwangi.

Desa tersebut dikenal dengan nama Desa Pakuan yang mengandung arti sejarah dan filosofi budaya Sunda yang masih terjaga hingga saat ini.

Di setiap pintu masuk dan gapura tampak hiasan padi yang diikat rapi dengan kain putih lengkap dengan payung tradisional, menghadirkan suasana layaknya kerajaan Sunda tempo dulu.

Baca juga artikel beritanya  Warga Dua Desa Gotong Royong Cor Rabat Beton Lorong Pemakaman di Compreng

Nuansa budaya begitu terasa di seluruh kawasan, membuat para pengunjung seolah berada di perkampungan adat bernilai sejarah tinggi.

Keunikan dan keindahan lingkungan yang dibangun KDM menjadikan lokasi ini sebagai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Berbagai ornamen budaya seperti patung harimau, Anoman, Dewa Siwa, hingga lorong jalan merah menjadi spot favorit pengunjung untuk berswafoto dan mengabadikan momen bersama keluarga maupun rombongan.

Tidak hanya itu, para pedagang di kawasan tersebut juga ikut menghadirkan nuansa khas Sunda. Mereka mengenakan pakaian adat Sunda dengan gambar macan putih serta ikat kepala khas Sunda yang identik dengan penampilan Kang Dedi Mulyadi.

Baca juga artikel beritanya  Warga Dua Desa Gotong Royong Cor Rabat Beton Lorong Pemakaman di Compreng

Suasana tradisional itu menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang berkunjung.

Salah satu rombongan pengunjung dari Jakarta Pusat mengaku datang khusus untuk melihat langsung suasana kampung halaman sosok yang mereka kagumi.

“Kami datang rombongan untuk jumpa Bapak Aing, karena kami ngefans dengan Bapak Aing. Walaupun belum bisa bertemu, mungkin beliau sedang Lebaran di luar daerah. Semoga suatu saat kami bisa bertemu langsung,” ujar mereka kompak sambil menikmati suasana jalan merah yang menjadi ikon lokasi tersebut.

Tak hanya dari Jakarta, sejumlah pengunjung dari Kecamatan Pusakanagara hingga Jawa Tengah juga terlihat memenuhi area wisata budaya tersebut.

Mereka sengaja memilih hari biasa agar lebih leluasa menikmati suasana dan berfoto di berbagai titik menarik.

Baca juga artikel beritanya  Warga Dua Desa Gotong Royong Cor Rabat Beton Lorong Pemakaman di Compreng

“Saya ngefans dengan KDM. Walaupun tidak bertemu langsung, saya senang bisa datang ke tempat ini. Kalau Sabtu dan Minggu biasanya terlalu padat pengunjung,” ungkap salah seorang wisatawan.

Keberadaan lokasi ini dinilai menjadi simbol persatuan dan keberagaman.

Meski berasal dari berbagai daerah, suku, bahasa, dan agama yang berbeda, para pengunjung tampak membaur dengan penuh kebersamaan sambil menikmati nuansa budaya Sunda yang kental.

Kampung halaman Kang Dedi Mulyadi kini bukan hanya sekadar tempat tinggal seorang tokoh daerah, tetapi telah menjelma menjadi destinasi wisata budaya yang menghadirkan nilai sejarah, keindahan lingkungan, serta kebanggaan masyarakat terhadap kearifan lokal Indonesia.

Mnj.com / Jauhari M Yunus CFLE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *