Blog  

Zikir Bersama di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh Hari Damai Berujung Ricuh, Diselimuti Gas Air Mata


Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 yang digelar melalui kegiatan zikir dan doa di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), berakhir ricuh. Kegiatan yang awalnya berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh itu berubah menjadi aksi saling lempar antara sebagian warga dan aparat keamanan.

Pantauan di lokasi, massa yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang. Mereka datang dari berbagai penjuru Aceh, mulai dari Kabupaten Gayo lues hingga Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam di Ikuti aceh Selatan Berserta Aceh Tenggara untuk mengikuti zikir, doa bersama, sekaligus menyampaikan aspirasi terkait kondisi Aceh.

Kegiatan tersebut disebut merupakan prakarsa masyarakat Aceh. Wakil Ketua Penyelenggara Zikir dan Doa, Tgk Zainuddin Unit, sebelumnya menegaskan bahwa kegiatan itu murni digagas masyarakat.

Baca juga artikel beritanya  524 Pegawai Pemkab Muba Ikuti Profiling ASN

“Kegiatan ini murni digagas oleh masyarakat Aceh yang prihatin melihat kondisi Aceh saat ini,” kata Tgk Zainuddin Unit kepada wartawan di Banda Aceh beberapa hari sebelum kegiatan.

Ia juga menegaskan bahwa peserta diarahkan untuk menjaga suasana tetap tertib dan tidak membawa atribut yang berpotensi memicu persoalan.

“Kita fokus pada zikir dan doa serta penyampaian aspirasi untuk kebaikan Aceh,” ujarnya.

Namun, situasi di lokasi kemudian berubah drastis. Acara yang semula berlangsung tenang dan penuh nuansa keagamaan mendadak diwarnai ketegangan. Massa berhamburan setelah aparat mengeluarkan gas air mata.

Dalam situasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian melakukan perlawanan dengan melemparkan batu ke arah aparat keamanan. Bentrokan pun tak terhindarkan.

Baca juga artikel beritanya  Kapolri dan KSBSI Perkuat Kolaborasi, Perlindungan Hak Buruh Jadi Prioritas

Suasana yang sebelumnya dipenuhi lantunan zikir berubah menjadi kepanikan. Para peserta berlarian menyelamatkan diri, termasuk warga yang datang dengan tujuan mengikuti doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman.

Seorang ibu yang berada di lokasi mengaku kecewa dengan situasi yang terjadi.

“Kami datang ke Masjid Raya Baiturrahman untuk berdoa. Tetapi bukan doa yang khusyuk yang kami terima, malah gas air mata,” ujar perempuan tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kericuhan terjadi setelah aparat keamanan melakukan pembubaran terhadap massa menggunakan gas air mata. Sebagian warga kemudian membalas dengan lemparan batu.

Seorang saksi mata yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebutkan terdapat sejumlah masyarakat yang diamankan aparat dalam kericuhan tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh informasi resmi mengenai jumlah warga maupun aparat yang menjadi korban ataupun jumlah orang yang diamankan.

Baca juga artikel beritanya  Hari Pers Nasional 2025 Digelar Didua Lokasi

Peristiwa ini menjadi catatan ironis dalam peringatan Hari Damai Aceh. Momentum yang seharusnya menjadi ruang refleksi atas perdamaian dan perjalanan Aceh justru berakhir dengan kepanikan serta benturan antara masyarakat dan aparat.

Publik kini menunggu penjelasan resmi dari pihak keamanan mengenai kronologi lengkap kericuhan, alasan penggunaan gas air mata, jumlah warga yang diamankan, serta kemungkinan adanya korban dalam insiden tersebut.

Hingga berita ini dikirim ke meja redaksi, pihak Humas Polda Aceh maupun Polresta Banda Aceh belum memberikan keterangan resmi yang dapat dikonfirmasi terkait insiden tersebut.Sabtu.(15/8/2026). [].Berita ini dikutip terbitan lebih awal diberapa medsos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *