Litbang sebagai Pilar Riset dan Inovasi* Oleh: Adhifatra Agussalim, CIE, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML

*Direktur Utama PT. Integra Sigma Indonesia, anggota Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA)

Di tengah tuntutan peningkatan kinerja dan pelayanan publik, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Mulai dari keterbatasan sumber daya, tuntutan transparansi, hingga kebutuhan inovasi berkelanjutan. Dalam situasi ini, keberadaan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) seharusnya menjadi pilar utama dalam membangun organisasi yang modern, profesional, dan berdaya saing.

Litbang bukan sekadar unit administratif atau pelengkap struktur organisasi. Ia merupakan pusat produksi pengetahuan, analisis kebijakan, serta pengembangan inovasi. Melalui Litbang, BUMD dapat merumuskan kebijakan berbasis data, memetakan risiko, serta menyusun strategi pengembangan yang terukur dan berkelanjutan.

Sayangnya, dalam praktiknya, peran Litbang di banyak BUMD belum dimaksimalkan. Litbang masih sering diposisikan sebagai unit pendukung yang hanya berfokus pada perbaikan peralatan IT dan dokumentasi kegiatan. Kajian strategis, riset terapan, serta inovasi pelayanan belum menjadi agenda utama. Akibatnya, pengambilan keputusan kerap didasarkan pada intuisi semata, bukan pada analisis yang komprehensif.

Baca juga artikel beritanya  *PELIINDO Berbagi Di Ramadhan 2024 Santuni Anak Yatim, Bagikan Ribuan Takjil, Dan Sembako Gratis Untuk Masyarakat.

Padahal, dalam konteks tata kelola perusahaan yang baik, Litbang memiliki peran strategis. Melalui riset dan evaluasi yang objektif, Litbang dapat mendukung prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan kewajaran. Setiap kebijakan yang dilahirkan melalui proses kajian yang matang akan lebih mudah dipertanggungjawabkan kepada publik.

Selain itu, Litbang juga menjadi motor penggerak inovasi. Inovasi tidak selalu berarti teknologi canggih atau investasi besar. Inovasi dapat lahir dari perbaikan sistem kerja, peningkatan kualitas layanan, efisiensi operasional, hingga pemanfaatan data secara optimal. Semua itu membutuhkan riset, eksperimen, dan evaluasi yang sistematis, yang menjadi domain utama Litbang.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah kualitas sumber daya manusia Litbang. Unit ini harus diisi oleh tenaga yang memiliki kompetensi di bidang riset, analisis data, perencanaan, dan kebijakan publik. Tanpa SDM yang memadai, Litbang akan sulit menjalankan perannya secara optimal.

Baca juga artikel beritanya  Karutan Kelas I Medan Mengikuti Sertifikasi CGRS Angkatan I Tahun 2024.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas melalui pelatihan, sertifikasi, dan kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi hal yang sangat penting.
Manajemen BUMD juga perlu membangun budaya organisasi yang menghargai ilmu pengetahuan dan data.

Baca juga artikel beritanya  Prof Dr KH Sultan Nasomal Harap Pemerintah Pusat dan Daerah Turun Tangan Tangani Kisruh Warga Marok Tua Vs PT Hermina Jaya

Hasil kajian Litbang tidak boleh hanya menjadi dokumen arsip, tetapi harus dijadikan rujukan utama dalam pengambilan keputusan. Dengan demikian, Litbang benar-benar menjadi mitra strategis pimpinan, bukan sekadar pelaksana tugas teknis.
Ke depan, Litbang harus diposisikan sebagai pusat inovasi dan pengendali mutu kebijakan. Setiap program, investasi, dan pengembangan usaha perlu melalui proses kajian yang terukur. Dengan pendekatan ini, BUMD tidak hanya mampu meningkatkan kinerja, tetapi juga membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, Litbang yang kuat akan melahirkan BUMD yang adaptif, transparan, dan berorientasi masa depan. Menjadikan Litbang sebagai pilar riset dan inovasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjawab tantangan zaman.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *