Tambang Rakyat: Jantung Kehidupan di Tengah Kesulitan

Aceh Timur.MNJ.NEWS.COM.

Seorang warga bernama Suryati, 55 tahun, menyampaikan perasaannya kepada media ini pada Sabtu, 4 Juli 2026, di lokasi kegiatan: “Ini bukan tambang Minyak milik kelompok atau mafia, melainkan tambang minyak milik rakyat. Mengapa saya katakan demikian? Sebab dengan keberadaannya, kami selaku rakyat kecil merasa sangat diberi kemudahan dan harapan. Seperti diri saya sendiri, sebelumnya pekerjaan sehari-hari hanyalah mengumpulkan lidi pokok sawit untuk dijual ke pengepul, namun hasilnya sangat sedikit dan tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup serta biaya pendidikan anak-anak. Terlebih lagi, saya sudah ditinggal wafat oleh suami dan harus menanggung segala beban sendirian sebagai janda. Namun sejak ada pengeboran minyak ini, hidup saya terasa jauh lebih ringan, dan hal yang sama juga dirasakan oleh tetangga serta kawan-kawan saya. Setiap kali kami mendatangi lokasi, kami mendapatkan bagian minyak yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun jika kegiatan ini ditutup, ke mana kami harus melangkah selaku rakyat yang tidak memiliki keahlian lain? Siapa yang akan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kami dan keluarga? Siapa lagi yang akan menjamin kebutuhan dapur dan keperluan anak-anak? Mengapa pemberitaan media justru melupakan kenyataan ini dan melukai hati kami? Ke mana perginya rasa kemanusiaan dan hati nurani nya, padahal sudah sangat jelas terlihat bahwa ini adalah usaha milik rakyat sendiri.”

Pernyataan senada juga disampaikan oleh sejumlah warga lainnya, menanggapi pemberitaan dari salah satu media daring yang menyebut aktivitas pengeboran di wilayah mereka sebagai kegiatan tidak berizin. Di Simpang Dama, Kecamatan Darul Ihsan, Kabupaten Aceh Timur — memang benar terdapat pengeboran minyak, namun ketahuilah dengan sepenuh hati: sumber daya ini adalah milik kami rakyat. Tanpa dukungan modal besar, tanpa bantuan fasilitas khusus, dan hanya mengandalkan kRemote keringat yang membasahi tanah serta tenaga yang terkuras setiap hari, kami menjadikan kegiatan ini sebagai satu-satunya jalan agar tetap dapat berpijak dan bertahan hidup di tanah tempat kami dilahirkan dan dibesarkan.

Cobalah bayangkan sejenak, tutup mata dan rasakanlah kenyataan ini: jika suatu saat pengeboran ini harus dihentikan, ke mana kami harus melangkah untuk mencari sekadar nasi di meja makan? Di daerah ini lapangan pekerjaan terasa sangat sempit, lahan pertanian banyak rusak dan tidak dapat diusahakan kembali, serta peluang usaha lain nyaris tidak terlihat. Jika tumpuan hidup ini dicabut secara tiba-tiba, rasanya seolah kami terlempar ke dalam ruang gelap tanpa arah, tanpa ada tangga yang dapat kami panjat untuk kembali meraih kehidupan yang layak.

Baca juga artikel beritanya  Masyarakat Matang Kupula Dua sangat Mendukung pasangan calon Bupati Aceh Timur Nektu Amat Lembeng.

Lalu bagaimana pula nasib kami dan masa depan anak-anak kami nanti? Pertanyaan ini senantiasa terngiang lembut di dalam hati setiap malam, saat hendak terlelap, sembari memandang wajah-wajah kecil yang sedang beristirahat. Kami hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan agar anak-anak kami dapat tumbuh sehat, menuntut ilmu dengan tenang, dan memiliki masa depan yang lebih terang daripada kami yang selama ini terjebak dalam keterbatasan hidup.

Siapa lagi yang akan memberi makan dan membiayai sekolah anak-anak, serta memenuhi segala kebutuhan keluarga di rumah? Setiap tetes minyak yang keluar dari perut bumi ini berubah menjadi nasi hangat di meja, obat saat tubuh terasa lemah, buku tulis yang penuh harapan, serta seragam sekolah yang menjadi tanda langkah menuju masa depan. Bagi kami, ini bukanlah jalan untuk menjadi kaya raya, melainkan satu-satunya jaminan agar keluarga tidak jat terperosok lebih dalam ke lembah kemiskinan.

Mengapa justru kami yang harus menjadi pihak yang dikorbankan, sementara aktivitas serupa di daerah lain seolah dibiarkan berjalan tanpa gangguan? Kami bertanya demikian bukan untuk melawan atau menantang aturan, melainkan semata-mata ingin merasakan keadilan yang sama. Mengapa sorotan hanya tertuju kepada kami yang lemah dan tidak memiliki suara, sedangkan kegiatan sejenis di tempat lain dibiarkan berjalan dengan tenang? Kami berharap hukum dapat memelihara rasa keadilan, bukan hanya menyentuh mereka yang tidak memiliki kekuasaan.

Bagaimana nasib kami ke depannya? Mampukah hati nurani pemerintah dan aparat melihat kami kelaparan, berdiri terpaku tanpa memiliki mata pencaharian lagi? Jika pengeboran ini dihentikan tanpa ada jalan pengganti yang jelas dan pasti, kami hanyalah rakyat biasa yang tidak memiliki keahlian khusus, tidak memiliki modal sedikit pun, dan tidak tahu harus melangkah ke mana hanya untuk sekadar menyambung nyawa.

Baca juga artikel beritanya  Berkas Perkara Lengkap, Polsek Indra Makmu Limpahkan Tersangka Pengrusakan dan Pengancaman ke JPU.

Ingatlah baik-baik dan resapi maknanya: ini bukan tambang milik kelompok tertentu, bukan milik orang kaya, dan bukan milik mafia — ini adalah tambang milik rakyat. Kami tegaskan dengan tenang namun tegas, bahwa apa yang kami kerjakan adalah buah keringat sendiri, bukan untuk mengumpulkan harta haram. Segala hasilnya hanya cukup untuk menopang hidup sehari-hari dan menjaga keutuhan keluarga agar tetap berdiri tegak di tengah segala badai kesulitan yang datang.

Mengapa media yang menulis berita itu seolah kehilangan rasa kemanusiaan saat melihat kondisi kami yang sebenarnya? Lebih dari itu, ke mana perginya hati nurani wartawan yang menyusun berita tersebut, padahal sudah nyata terlihat, terasa, dan terbukti bahwa ini adalah usaha rakyat kecil yang sedang berjuang mempertahankan kelangsungan hidup? Jangan sampai hanya demi melengkapi lembaran tulisan, hati nurani dikesampingkan begitu saja, padahal di baliknya ada nyawa dan masa depan keluarga yang sedang bergantung pada sumber daya ini.

Padahal seharusnya media menyampaikan hal yang lebih membangun, lebih menyejukkan, dan lebih mengangkat martabat rakyat. Seharusnya diceritakan bagaimana rakyat Aceh Timur berusaha bangkit kembali, mengumpulkan sisa kekuatan, dan tidak menyerah di tengah keterpurukan pasca bencana. Seharusnya tulisan itu menjadi cahaya penyemangat, bukan justru menjadi beban yang menambah berat derita yang kami rasakan setiap detiknya.

Jangan biarkan kami menjadi korban dari pemberitaan yang tidak melihat kenyataan secara utuh dan menyeluruh. Jangan hanya menilai dari satu sisi saja, tanpa merasakan penderitaan yang kami alami dan mendengar langsung apa yang terguncang di dalam dada kami, tanpa merasakan detak jantung dari perjuangan ini. Terasa sangat perih rasanya digambarkan seolah sebagai pelaku kesalahan, padahal kenyataannya kami hanya berusaha bertahan hidup demi keluarga yang sangat kami cintai.

Seharusnya media hadir menjadi pendamping, menjadi penyalur suara, dan menjadi penguat bagi rakyat, terlebih karena kami baru saja melewati bencana yang sangat besar dan menghancurkan. Musibah itu telah merobohkan tempat berteduh, merusak lahan-lahan sumber kehidupan, dan mematahkan banyak harapan yang telah kami bangun selama ini. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, dan kini satu-satunya harapan baru yang tumbuh perlahan justru terancam akan hilang kembali.

Baca juga artikel beritanya  Kubangan Becek, Potret Pilu Halaman SD Negeri Geulumpang Payong di Aceh Timur

Inilah satu-satunya harapan kami untuk tetap bertahan hidup di tengah bekas bencana dan kesulitan ekonomi yang melilit erat. Di tengah kegelapan yang masih menyelimuti banyak sisi kehidupan kami, sumur minyak ini adalah cahaya kecil yang masih menyala dengan setia. Ia menjadi penolong di saat hampir tidak ada jalan lain yang terbuka lebar bagi kami rakyat biasa yang tidak memiliki kekuasaan.

Kami sadar sepenuhnya bahwa segala kegiatan harus memiliki aturan, ketertiban, dan kejelasan hukum. Kami tidak menolak adanya perbaikan, kami juga tidak menolak bimbingan, kami hanya memohon agar kegiatan ini tidak dihentikan secara tiba-tiba tanpa jalan keluar yang jelas dan terukur. Bagi kami, ini bukan sekadar lubang di dalam tanah yang mengeluarkan cairan hitam, melainkan jantung kehidupan yang menopang ribuan jiwa di Simpang Dama dan sekitarnya.

Maka dengan segala kerendahan hati, dengan doa yang tulus, dan dengan harapan yang tak pernah padam, kami memohon kepada pemerintah daerah maupun pusat, kepada aparat penegak hukum, dan kepada seluruh pemangku kebijakan: lindungilah tambang milik rakyat ini. Jangan cabut nafas kehidupan kami sebelum ada jalan pengganti yang pasti dan layak untuk kami jalani.

Harapan kami sangat sederhana saja, sangat manusiawi, dan sangat wajar: agar kami tetap bisa makan dengan layak, menyekolahkan anak-anak dengan tenang, memelihara keluarga dengan rasa aman, dan hidup bermartabat di bumi Aceh Timur ini. Jadikanlah usaha ini sebagai jalan untuk memberdayakan rakyat, bukan sebagai alasan untuk mematikan harapan. Sebab jika satu-satunya tumpuan ini hilang, yang tersisa hanyalah kesedihan panjang dan ketidakpastian bagi ribuan keluarga yang seluruh hidupnya bergantung pada berkah yang diberikan oleh tanah ini.

penulis: ( Ridwan Abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *