LAMONGAN Mnj.com
Puluhan tokoh agama dari berbagai latar belakang keyakinan berkumpul di Hotel Mahkota Lamongan, Selasa–Rabu (28–29 Juli 2026), dalam Semiloka Penguatan Wawasan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dialog Center UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan serta lembaga internasional Mission 21, diikuti 50 peserta lintas iman: Islam, Kristen, Hindu, Buddha, hingga penghayat kepercayaan.
Ini merupakan kegiatan ke-125 yang digelar Dialog Center UIN Sunan Kalijaga di berbagai daerah di Indonesia, sekaligus kelanjutan kerja sama yang telah terjalin sejak tahun 2021.
Dalam sambutannya, Direktur Dialog Center UIN Sunan Kalijaga, Dr. Zainudin, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya forum ini.
“Kegiatan ini bertujuan memperkuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Dialog Center yang berdiri sejak 2005 terus berupaya melakukan penelitian, pelatihan, dan pendampingan agar perbedaan menjadi kekuatan bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lamongan, Dr. H. Mohammad Muhlisin Mufa, S.Ag., M.Pd.I., berharap hasil diskusi tidak berhenti di ruang pertemuan. “Kami berharap semangat persatuan ini benar-benar terwujud dalam tindakan nyata di tengah masyarakat,” tegasnya.
Dalam pemaparan materinya, Dr. Muhlisin mencontohkan Desa Balun, Kecamatan Turi, yang memiliki masjid, pura, dan gereja berdiri berdekatan sebagai miniatur keberagaman yang patut dijaga.
“Perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan perpecahan. Terlebih di era media sosial, sikap saling menghormati menjadi kunci mencegah kesalahpahaman dan provokasi. Mari bangun komitmen kolektif untuk mewujudkan ruang aman bagi semua lintas iman,” ujarnya.
Perwakilan Mission 21, Wawan Gunawan, M.Ag., menegaskan negara menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan bagi seluruh warga, baik yang berkeyakinan teistik maupun nonteistik, sesuai hukum nasional dan internasional.
“Tidak setuju dengan pandangan orang lain adalah hal wajar, namun tidak boleh diwujudkan dalam bentuk kekerasan apa pun. Tugas negara adalah menghormati, melindungi, dan memenuhi hak setiap warga tanpa kecuali,” tegasnya.
Dr. Zainudin kembali mengingatkan bahwa konflik sering dipicu oleh perbedaan pandangan, kepentingan, serta kurangnya pemahaman antar-pihak. “Indonesia bisa menjadi kiblat kerukunan umat beragama di dunia. Banyak desa dan daerah yang sudah menunjukkan bukti nyata hal itu, dan inilah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Mahmud Arif mengibaratkan keberagaman seperti indahnya pelangi. “Multikulturalisme berarti menerima, menghargai, dan mengelola perbedaan agar melahirkan kerukunan.
Semua agama sejatinya mengajarkan kasih sayang, saling menolong, serta kejujuran. Perlu literasi yang kuat agar ajaran agama tidak hanya berhenti pada ritual, tetapi hadir dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan baik di dunia nyata maupun media sosial,” jelasnya.
Dalam sesi partisipatif yang dipandu Risdo Simangunsong, peserta diminta memberikan nilai terhadap tingkat kebebasan beragama di Indonesia dalam rentang 0–100. Nilai yang diberikan beragam: perwakilan penghayat kepercayaan memberikan angka 70 karena masih adanya keterbatasan pengakuan dan akses fasilitas, sebagian peserta lain memberi nilai 100 mengingat kebebasan sudah dijamin negara, namun ada pula yang memberi nilai 50, mengingat masih terjadi persekusi, keterbatasan akses di wilayah perbatasan atau daerah minoritas, serta penyalahgunaan media sosial yang memicu perpecahan.
Diskusi berlangsung hangat, di mana peserta sepakat bahwa penanganan tantangan keberagaman tidak hanya lewat aturan, melainkan butuh komitmen bersama dari tingkat paling bawah hingga atas. Peningkatan kesehatan mental, gerakan anti-perundungan, serta penguatan kesadaran saling menghargai menjadi kunci yang disepakati peserta.

Di penghujung hari pertama, peserta yang difasilitasi Prof. Dr. Ahmad Baidlowi dibagi ke dalam lima kelompok lintas iman untuk memetakan bentuk potensi konflik, penyebab, pihak yang terlibat, hingga strategi penyelesaian yang ideal. Hasil pemetaan serta rekomendasi tindak lanjut akan dipaparkan secara lengkap pada penutupan kegiatan Rabu siang nanti.
(Mochammad Sinung Restendy)











