PIDIE  

14 Desa dan 12 Sekolah di Kembang Tanjong Belum Tersentuh MBG, Warga Bertanya: Sampai Kapan Harus Menunggu?

Pidie |Mnj.com Senin 24 Agustus 2026

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah pusat masih menyisakan tanda tanya bagi masyarakat di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Aceh.

Di tengah gencarnya pelaksanaan program MBG di berbagai daerah, masyarakat di 14 desa dan 12 sekolah di Kecamatan Kembang Tanjong disebut belum menerima manfaat program tersebut sejak MBG mulai dilaksanakan.

Kondisi ini memunculkan keresahan sekaligus pertanyaan di tengah masyarakat. Bukan hanya orang tua siswa yang menunggu, tetapi juga ratusan balita, ibu hamil, ibu menyusui, para siswa hingga guru yang berharap program pemenuhan gizi tersebut segera menyentuh wilayah mereka.

Masyarakat mempertanyakan, mengapa program yang ditujukan untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh wilayah sasaran?

Ratusan Balita, Ibu Hamil dan Ibu Menyusui Menunggu

Berdasarkan data ibu hamil, ibu menyusui dan balita tahun 2026 yang ditampilkan dalam data wilayah Kembang Tanjong, tercatat 60 ibu hamil, 125 ibu menyusui dan 570 balita dari desa-desa yang tercantum dalam pendataan tersebut.

Angka itu bukan sekadar deretan angka dalam tabel.

Di balik data tersebut terdapat ibu yang sedang mengandung, ibu yang sedang menyusui serta anak-anak usia dini yang membutuhkan asupan gizi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Karena itu, masyarakat berharap program MBG tidak berhenti pada tahap pendataan dan perencanaan, tetapi benar-benar hadir dan dapat dirasakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran.

Baca juga artikel beritanya  Bukan Sekadar Bangun Jalan, TMMD ke-129 Bekali Petani Lhok Panah dengan Ilmu Tingkatkan Hasil Pertanian

Pertanyaannya sederhana: jika data penerima sudah ada, mengapa masyarakat masih harus menunggu tanpa kepastian kapan distribusi dimulai?

12 Sekolah Juga Menunggu Kepastian

Persoalan yang sama disebut dirasakan oleh 12 sekolah di Kecamatan Kembang Tanjong.

Para siswa dan guru di sekolah-sekolah tersebut juga menunggu kepastian terkait distribusi MBG.

Bagi siswa, makanan bergizi bukan sekadar tambahan menu. Program tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi anak selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah.

Sementara bagi pihak sekolah, kepastian distribusi sangat penting agar mereka dapat mengetahui apakah program tersebut akan dilaksanakan, kapan dimulai dan bagaimana mekanisme penerimaannya.

Sejumlah kepala sekolah disebut telah berulang kali mempertanyakan persoalan tersebut kepada pihak dapur MBG yang berada di wilayah Kembang Tanjong.

Namun, hingga kini masyarakat masih menunggu kepastian yang benar-benar jelas.

Kader Posyandu Ikut Mempertanyakan

Bukan hanya pihak sekolah.

Para kader Posyandu yang selama ini bersentuhan langsung dengan masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui dan balita, juga disebut ikut mempertanyakan kapan program MBG dapat diberikan kepada kelompok sasaran di desa mereka.

Kader Posyandu merupakan salah satu pihak yang mengetahui kondisi masyarakat di tingkat paling bawah.

Mereka melihat langsung bagaimana kebutuhan gizi ibu dan anak di desa, sehingga wajar apabila muncul pertanyaan ketika program yang diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi tersebut belum juga diterima.

Baca juga artikel beritanya  Kecelakaan Tunggal Minibus di Jalan Banda Aceh–Medan, 10 Penumpang Luka-Luka

Sampai kapan harus menunggu?

Pertanyaan itulah yang kini terus muncul di tengah masyarakat.

Jangan Sampai MBG Hanya Berhenti di Dapur

Masyarakat tidak sedang meminta perlakuan khusus.

Mereka hanya menginginkan adanya kepastian, keterbukaan dan pemerataan dalam pelaksanaan program MBG.

Jika memang terdapat kendala teknis, masyarakat berharap pemerintah dan pengelola program menjelaskannya secara terbuka.

Apakah persoalannya terkait kapasitas dapur MBG?

Apakah berkaitan dengan jumlah penerima?

Apakah distribusi belum menjangkau seluruh desa dan sekolah?

Atau terdapat persoalan lain yang menyebabkan 14 desa dan 12 sekolah tersebut belum menerima manfaat MBG?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.

Sebab, program pemerintah yang menggunakan sumber daya negara seharusnya memiliki mekanisme yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai masyarakat hanya mengetahui program MBG melalui pemberitaan dan media sosial, sementara anak-anak mereka di sekolah masih menunggu makanan bergizi yang dijanjikan.

‘Kepala Sekolah dan Kader Posyandu Butuh Jawaban, Bukan Sekadar Janji

Para kepala sekolah membutuhkan kepastian agar dapat menyampaikan informasi yang benar kepada orang tua siswa.

Begitu pula kader Posyandu membutuhkan kejelasan agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

Masyarakat tentu dapat memahami apabila terdapat tahapan dan kendala dalam pelaksanaan sebuah program nasional.

Baca juga artikel beritanya  SILATURAHMI DAN AUDIENSI DPD GAMIES PIDIE KE DISPERINDAGKOP KABUPATEN PIDIE

Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika pertanyaan berulang kali disampaikan tetapi kepastian kapan program tersebut diterima belum juga diperoleh.

Karena itu, pemerintah daerah, pihak pelaksana MBG maupun pengelola dapur MBG di Kecamatan Kembang Tanjong diharapkan segera memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat.

Pak Prabowo, Kapan MBG Sampai ke Desa Kami?”

Harapan masyarakat Kembang Tanjong pada akhirnya bermuara kepada pemerintah pusat.

Program MBG merupakan program besar yang diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan generasi muda.

Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya dapat diukur dari berapa banyak dapur yang berdiri atau berapa banyak porsi makanan yang telah disalurkan.

Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah sejauh mana program tersebut mampu menjangkau masyarakat yang menjadi sasaran, termasuk mereka yang berada di desa-desa.

Masyarakat Kembang Tanjong pun berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut.

“Pak Prabowo, kapan MBG sampai ke desa kami?”

Pertanyaan itu kini menjadi suara masyarakat yang menunggu.

Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin program pemerintah yang ditujukan untuk pemenuhan gizi benar-benar hadir di tengah mereka.

14 desa dan 12 sekolah masih menunggu. Ratusan balita, ibu hamil, ibu menyusui, siswa dan guru menunggu kepastian.

Kini bola berada di tangan pemerintah dan pihak pelaksana.

*Sampai kapan masyarakat Kembang Tanjong harus menunggu?

 

Ryan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *