
Aceh Singkil , MNJ, Menjelang Konferensi Daerah (Konferda) ke-XXIII, bursa calon Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh Singkil mulai memanas. Di tengah persaingan yang kian ketat, nama Ahmad Akbar mencuat sebagai salah satu figur yang dinilai layak memimpin organisasi guru tersebut.
Sejumlah kalangan guru menilai Ahmad Akbar memiliki kombinasi karakter yang dibutuhkan, mulai dari kesederhanaan, wawasan luas, hingga pengalaman organisasi. Penilaian ini bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejaknya dinilai menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap PGRI.
“Sosok Ahmad Akbar saya yakini pantas dan layak menahkodai PGRI Aceh Singkil. Selama ini ia menunjukkan dedikasi dan loyalitas terhadap organisasi,” ujar seorang guru dari Kecamatan Singkohor.
Tak hanya itu, Akbar juga dinilai memiliki kapasitas untuk memperjuangkan kepentingan guru, sekaligus mendorong peningkatan kreativitas tenaga pendidik di daerah. Harapan ini muncul di tengah kebutuhan akan figur pemimpin yang tidak sekadar administratif, tetapi juga visioner.
Saat dikonfirmasi, Ahmad Akbar merespons santai dinamika yang berkembang. Ia menegaskan seluruh kandidat memiliki peluang yang sama dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada peserta konferensi.
“Saya serahkan saja kepada peserta konferensi, nanti mereka yang menilai,” kata Akbar, Rabu (6/5/2026).
Ia juga enggan mengungkap dukungan yang telah dikantonginya. Menurutnya, proses demokrasi di internal organisasi harus dijaga tanpa klaim berlebihan yang berpotensi memicu gesekan.
“Kita tunggu saja siapapun nanti yang dipilih, maka dialah yang terbaik menahkodai PGRI Aceh Singkil,” ujarnya.
Di sisi lain, harapan serupa juga datang dari guru di sejumlah kecamatan lain. Mereka meminta agar peserta konferensi benar-benar mempertimbangkan kapasitas calon secara objektif, bukan sekadar kedekatan atau kepentingan kelompok.
“PGRI Aceh Singkil butuh sosok nahkoda yang mumpuni, berani pasang badan untuk anggota, serta punya ide kreatif dan relasi luas,” ungkap seorang tenaga pendidik di Kecamatan Gunung Meriah.
Di tengah persaingan tiga kandidat yang kian mengerucut, langkah Ahmad Akbar juga mendapat sorotan publik. Salah satunya saat ia melakukan pertemuan dengan Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Singkil, Muhammad Junaidi, di ruang kerjanya.
Pertemuan tersebut dinilai sebagai sinyal keseriusan dalam memperjuangkan perlindungan hukum bagi guru. Isu ini menjadi krusial, mengingat tidak sedikit tenaga pendidik yang berhadapan dengan persoalan hukum saat menjalankan tugas di sekolah.
Kontestasi menuju kursi Ketua PGRI Aceh Singkil pun kini tidak hanya soal popularitas, tetapi juga adu gagasan dan keberanian mengambil langkah konkret. Publik pendidikan menanti, apakah figur yang terpilih nantinya benar-benar mampu menjawab tantangan dan memperjuangkan nasib guru secara nyata.”
“Kaperwil Aceh M.Yantoro

