Sumbangsih Pemikiran: Menjaga Arah Perjuangan GAMIES di Tengah POLEKSOSBUDHANKAM yang Tidak Sehat

Oleh: Adhifatra Agussalim

Jalan pagi menuju kota.

Singgah sebentar membeli serai.

Walau badai datang melanda.

Niat berjuang jangan terlerai.

 

*Mukaddimah*

Di tengah dinamika bangsa yang terus bergerak, dari imbas perang di timur tengah, isu Board of Peace (BOP), bencana dimana-mana hingga polemik ijazah mantan petinggi negara yang terus berlanjut hingga sekarang, sehingga terbawa kedalam organisasi masyarakat yang hari ini menghadapi tantangan komplek dan tidak ringan. Situasi politik yang cenderung pragmatis seperti pertemuan terakhir antara Prabowo dengan Surya Paloh menghasilkan prediksi analisis dari multi pihak yang menghasilkan multi tafsir, ekonomi yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat kecil, ketimpangan sosial yang masih terasa, terjebak sehingga tak bisa berbuat apa-apa, degradasi budaya gotong royong, hingga ancaman terhadap ketahanan nasional di berbagai lini, menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan.

 

*Paradigma Absolut*

Dalam konteks inilah, keberadaan GAMIES (Generasi Amanat Masyarakat Indonesia Ekonomi Sejahtera) menjadi penting sebagai kekuatan sosial yang mampu hadir memberi solusi bagi masyarakat.

Jika dilihat dari sudut paradigma poleksosbudhankam (politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan), maka gerak organisasi seperti GAMIES harus mampu membaca perkembangan zaman dengan cermat, analitik, prediktif dan implementatif.

 

Politik hari ini sering kali dipenuhi polarisasi, perebutan pengaruh, dan kepentingan sesaat. Organisasi masyarakat harus cerdas menjaga independensi dari tarik-menarik kepentingan, namun tetap dekat dengan kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat. Artinya, GAMIES tidak boleh larut menjadi alat politik praktis, tetapi harus menjadi mitra kritis dan konstruktif bagi pemerintah maupun legislatif sehingga yudikatif.

Baca juga artikel beritanya  Kapolda Aceh Berikan Arahan kepada Personel Ditpamobvit dan Ditbinmas

 

Dari sisi ekonomi, masyarakat sedang menghadapi tekanan yang nyata. Harga kebutuhan pokok meningkat, akhir-akhir ini plastik naik sehingga 2 kali lipat, ada plus minus disitu, sehingga daya beli melemah, UMKM masih berjuang bertahan, dan lapangan kerja belum terbuka secara luas. Di sinilah GAMIES harus mengambil posisi strategis: menjadi jembatan pemberdayaan, pelatihan usaha, pendampingan UMKM, penguatan ekonomi kreatif, serta membuka akses pasar melalui transformasi digital. Organisasi tidak cukup hanya hadir dalam seremoni, tetapi harus turun langsung menjadi solusi ekonomi masyarakat.

 

Dalam aspek sosial, kita melihat meningkatnya individualisme, menurunnya solidaritas, serta mudahnya konflik dipicu oleh isu-isu kecil. Maka GAMIES harus menjadi ruang persatuan, tempat kader belajar etika, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Pengurus GAMIES harus membangun kultur internal yang sehat: saling menghormati, terbuka, dan berorientasi pada kerja nyata. Jangan sampai GAMIES justru melemah karena ego personal atau persaingan internal yang tidak produktif.

 

Sementara dari sisi budaya, tantangan globalisasi membuat generasi muda semakin jauh dari akar lokal. Alhamdulillah Aceh sendiri memiliki identitas kuat, nilai religius, adat istiadat, dan semangat kolektif yang harus dijaga. GAMIES dapat menjadi motor penguatan budaya produktif dengan mendorong ekonomi berbasis kearifan lokal, promosi produk daerah, seni kreatif, hingga literasi digital yang berkarakter.

Baca juga artikel beritanya  Mengenal Briptu Kevin Hidayatullah, Polisi di Aceh yang Aktif Mengajar Ngaji di Masjid Raya Baiturrahman

 

Dalam perspektif pertahanan dan keamanan, ancaman hari ini bukan hanya perang fisik, tetapi juga perang informasi, hoaks, narkoba, radikalisme, hingga kerusakan moral generasi muda. Organisasi masyarakat seperti GAMIES memiliki peran besar sebagai benteng sosial. Ketika negara memiliki keterbatasan menjangkau semua lini, maka GAMIES harus menjadi mitra strategis dalam menjaga ketahanan masyarakat dari bawah (akar rumput).

 

*Realitas, fakta dan integritas*

Lalu bagaimana realitas kita dalam berorganisasi di tengah situasi yang tidak kondusif? Jawabannya adalah tetap bergerak dengan strategi, bukan emosi, ya bukan *EMOSI*. Harus di bold dan dibuat huruf besar, Pengurus harus memahami bahwa organisasi besar selalu diuji. Akan ada keterbatasan dana, minim dukungan, kritik, bahkan upaya melemahkan. Namun sejarah membuktikan, organisasi yang bertahan bukan yang paling kuat modalnya, tetapi yang paling kuat semangat dan konsistensinya.

 

Karena itu, arah tujuan GAMIES harus diperjelas. Fokus pada program yang menyentuh rakyat, membangun SDM pengurus, memperluas jaringan, menjaga integritas, dan menghindari konflik yang tidak perlu. Pengurus harus bekerja dengan konsep (Renstra dan program kerja), data, informasi dan kolaborasi bersama baik dari unsur senior dan juga gaet gen z, millennial yang sedang mencari jati diri. Jangan habiskan energi pada hal-hal kecil yang tidak produktif.

Baca juga artikel beritanya  Pj Kota Langsa Syaridin S.p.d Kepala Dinas pendidikan Menerima Penghargaan literasi Indonesia( Forum )Indonesia Menulis.

 

Kita harus percaya, kondisi politik dan ekonomi boleh tidak sehat, tetapi GAMIES tetap bisa sehat bila dikelola dengan niat baik dan manajemen yang benar. Situasi boleh tidak kondusif, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti. Justru di masa sulit, organisasi diuji untuk menunjukkan manfaatnya.

 

GAMIES harus hadir bukan sekadar nama, tetapi *gerakan*. Bukan hanya simbol, tetapi *solusi*. Bukan hanya ramai di spanduk, tetapi nyata di *tengah masyarakat.*

 

*Taklimat Akhir*

Jika pengurus solid, visi jelas, dan langkah terukur, maka sebesar apa pun tantangan zaman, tujuan organisasi akan tetap tercapai. Karena sejatinya, organisasi yang hidup bukan yang sering bicara besar, melainkan yang konsisten bekerja dalam diam dan menghasilkan perubahan nyata, jika bukan sekarang kapan lagi, jika bukan kita yang berjuang sekarang siapa lagi.

 

Burung merpati terbang melayang,

Hinggap sebentar di pohon jati.

Jika GAMIES terus berjuang,

Rakyat sejahtera bukan hanya mimpi.

 

Banda Aceh, 17 April 2026/29 Syawal 1447 H

 

*Seorang praktisi media, penuntut ilmu tiada henti, berbagi menjadi motivasi, belajar bidang manajemen resiko, compliance dan tata kelola perusahaan, sedang diamanahkan menjadi Ketua DPW GAMIES Provinsi Aceh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *