
Aceh Selatan, MNJ. Petani di Gampong Drien Jalo dan Roet Teungoh, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan, akhirnya patungan menyewa alat berat, untuk mengeruk saluran irigasi yang mengalami pendangkalan dan tersumbat. Langkah itu terpaksa diambil karena sekitar 20 hektare areal persawahan di dua gampong tersebut mengalami kekeringan. Petani yang hendak kembali turun ke sawah pun kesulitan mendapatkan air. Dari informasi yang dihimpun,Senin.(31/8/2026).
persoalan irigasi itu sudah berlangsung sekitar dua tahun. Kondisi tersebut bahkan membuat petani dua kali gagal tanam. Di tengah kebutuhan air yang mendesak, warga akhirnya memilih tidak menunggu lebih lama. Mereka bermusyawarah dan mengumpulkan uang secara sukarela untuk menyewa beko. Dari urunan tersebut terkumpul sekitar Rp1,4 juta. Masing-masing petani menyumbang Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Saluran irigasi yang mengarah ke areal persawahan di kawasan Gampong Drien Jalo dan Roet Teungoh, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan. Aliran air ke sawah warga dilaporkan terkendala.
Warga Pengusaha alat berat jenis excavator atau beko, Ramli Juragan, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan petani sebelumnya sudah menyampaikan persoalan irigasi kepada pemerintah daerah, termasuk mengajukan proposal. Namun, sampai sekarang belum ada penanganan. “
“Proposal sudah dikirimkan tetapi belum beruntung, bertemu langsung katanya tidak tersedia biaya,” Ujar Ramli seperti dikutip dari terbitan awak media lebih awal, Karena kondisi semakin mendesak, warga kemudian meminta bantuan untuk mengeruk saluran irigasi. Sejak mulai hari Sabtu pagi, alat berat mulai bekerja di saluran irigasi Drien Jalo. “Dengan mengumpul dana seadanya, per petani Rp15 ribu sampai Rp25 ribu, terkumpul sebesar Rp1,4 juta untuk irigasi Drien Jalo. Alhamdulillah, sejak pagi tadi sudah dikerjakan menggunakan beko. Jika tidak ada halangan, sore nanti air mulai mengairi persawahan,” ujar Ramli. Menurut dia, uang Rp1,4 juta tersebut digunakan untuk kebutuhan bahan bakar dan rokok operator. Sedangkan pekerjaan lainnya dilakukan secara gotong royong oleh warga.
Setelah saluran irigasi Drien Jalo selesai dikeruk, pekerjaan akan dilanjutkan ke saluran irigasi di Roet Teungoh. Ramli menyebut petani sebenarnya berharap persoalan tersebut ditangani pemerintah. Namun, musim tanam terus berjalan dan sawah tidak bisa menunggu. “
“Kami merasa diabaikan, padahal pemerintah Aceh Selatan sedang gencar-gencarnya menyuarakan ketahanan pangan melalui program BASAGA. Hati dan jiwa saya turut terpanggil untuk membantu petani. Jika bukan kita, sama siapa lagi diharapkan,” cetusnya. Warga berada di sekitar pintu air yang menjadi bagian dari jaringan irigasi di kawasan Gampong Drien Jalo, Kecamatan Meukek, Aceh Selatan.
Seorang petani yang meminta namanya tidak dipublikasikan juga membenarkan adanya patungan tersebut. Ia mengatakan persoalan irigasi sudah berulang kali disampaikan kepada pemerintah daerah. Karena belum ada penanganan, warga akhirnya memilih mengerjakannya secara swadaya. “
“Benar bang, sudah berulang kali hal tersebut disampaikan kepada pemerintah daerah tetapi tidak ada tanggapan. Daripada gagal tanam dan gagal panen, lebih baik diupayakan secara bergotong royong,” katanya.
Bagi warga, pengerukan itu setidaknya diharapkan bisa membuka kembali jalur air menuju sawah. Mereka ingin segera menanam dan tidak kembali mengalami kerugian karena persoalan air. Kondisi ini menjadi sorotan karena pemerintah daerah sedang mendorong program Bajak Sawah Gratis (BASAGA) untuk mendukung petani. Di lapangan, petani justru masih berhadapan dengan persoalan dasar berupa pasokan air ke lahan persawahan. Warga berharap pemerintah ikut turun tangan memperbaiki saluran irigasi secara permanen. Sebab, kalau hanya mengandalkan gotong royong setiap musim tanam, petani khawatir persoalan yang sama akan kembali terulang. Hingga berita ini diterbitka. []
“Wartawan aceh. M. Yantoro







